16+ Peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Gambarnya (Candi, Prasasti, dll)

16+ Peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Gambarnya (Candi, Prasasti, dll)

Peninggalan kerajaan Sriwijaya – Kerajaan Sriwijaya merupalan sebuah kerajaan bahari bercorak Hindu-Budha yang berpusat di Palembang di pulau Sumatera, Indonesia. Sriwijaya berdiri sekitar tahun 683 Masehi sampai 1025 Masehi. Wilayah kekuasaan Sriwijaya mencapai Sumatera dan Jawa ditambah Thailand, Kamboja dan Semenanjung Malaya.

Pusat kerajaan Sriwijaya ada di Palembang yang kini terletak di Sumatera Selatan. Kerajaan ini memang memberi banyak pengaruh dengan daerah kekuasaan yang membentang. Sriwijaya dikenal karena kekuatan armada bahari atau kelautan yang kuat, bahkan menjadi pusat pelabuhan untuk dagang.

Kerajaan Sriwijaya mengalami masa kejayaan pada sekitar abad ke 9-10. Saat itu Sriwijaya berhasil menguasai perdagangan di wilayah Asia Tenggara dan menguasai Selat Sunda dan Selat Malaka sebagai jalur dagang strategis. Kerajaan Sriwijaya kemudian runtuh sekitar tahun 1025 saat serangan dari Rajendra Chola I dari Koromandel.

Usai runtuh, kerajaan Sriwijaya tetap dikenang sebagai kerajaan yang memberi pengaruh positif pada Nusantara. Nama Sriwijaya menjadi identik dengan kota Palembang di Sumatera Selatan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya di eranya.

(baca juga peninggalan Kerajaan Majapahit)

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Nah di bawah ini akan dijelaskan mengenai situs sejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya, baik berupa candi, gapura, prasasti, arca dan situs arkeologi lain dalam sejarah Kerajaan Sriwijaya.

Candi Muara Takus

peninggalan kerajaan sriwijaya candi muara takus

Candi Muara Takus merupakan salah satu candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Lokasi Candi Muara Takus terletak di Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau. Candi ini menjadi satu-satunya candi dengan corak Budha di Riau, dengan beberapa bangunan terdiri dari candi sulung, candi bungsu, mahligai stupa, dan palangka. Candi ini dinobatkan sebagai salah satu warisan dunia sejak tahun 2009 oleh UNESCO.

Candi Muaro Jambi

peninggalan kerajaan sriwijaya candi muaro jambi

Candi Muaro Jambi dibangun sekitar abad ke-11 dan terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, provinsi Jambi tepatnya di tepi sungai Batang Hari. Muaro Jambi juga menjadi candi dengan area terluas di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara, dengan total area 3981 hektar. Pada tahun 2009, Candi Muaro Jambi juga ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

Candi Biaro Bahal

Peninggalan kerajaan Sriwijaya berikutnya adalah Candi Biaro Bahal. Letaknya ada di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Tapanuli Selatan, provinsi Sumatera Utara. Candi ini dibangun pada abad 11 dengan struktur bata merah. Kompleks candi ini terdiri dari beberapa candi yang sering disebut candi Bahal I, candi Bahal II dan seterusnya.

Candi Kota Kapur

Candi Kota Kapur merupakan candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang megah, yang berkaitan erat dengan prasasti Kota Kapur. Dibangunnya candi ini dengan tujuan untuk menghindari gangguan dari kapal-kapal perompak yang lewat di sekitar daerah tersebut yang kerap melakukan penyerangan.

Gapura Sriwijaya

Gapura Sriwijaya merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya dalam bentuk gapura. Adapun letak gapura ini ada di Dusun Rimba, Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan dan terdiri dari 9 bagian gapura. Gapura Sriwijaya ini sudah roboh saat ini karena gempat, erosi dan gejala alam lainnya, namun keberadaannya tetap dikenang oleh masyarakat setempat.

Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur terletak di Pulau Bangka bagian barat yang ditulis dengan memakai bahasa Melayu Kuno serta aksara Pallawa. Prasasti ini ditemukan pada tahun 686 M. Konon, isi prasasti ini berisikan tentang harapan-harapan dari rakyat kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Ligor

Prasasti Ligor menjadi salah satu prasasti peninggalan Sriwijaya. Letak ditemukannya prasasti Ligor adalah di Nakhon Si Thammarat, wilayah Thailand bagian Selatan. Prasasti Ligor ditemukan pada tahun 775 M. Prasasti ini memiliki dua sisi, yang dinamai sisi A dan sisi B.

Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah ditemukan di Desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Pada prasasti ini menggunakan bahasa Melayu Kuno dan aksara Pallawa yang tersusun atas 13 baris kalimat. Prasasti ini berasal dari abad ke-7 dan berisikan tentang kutukan terhadap orang yang tidak tunduk pada kekuasaan Sriwijaya.

Prasasti Hujung Langit

Prasasti Hujung Langit juga termasuk peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Letak ditemukannya prasasti ini di Desa Haur Kuning, provinsi Lampung. Adapun bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kuno dan aksara Pallawa. Isi Prasasti Hujung Langit adalah tentang pemberian tanah Sima yang diperkirakan berasal dari tahun 997 Masehi.

Prasasti Telaga Batu

peninggalan kerajaan sriwijaya prasasti telaga batu

Prasasti Telaga Batu ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Isi prasasti Telaga Batu yaitu mengenai kutukan bagi mereka yang berbuat jahat di Sriwijaya.  Di sekitar lokasi penemuan Prasasti Telaga Batu ini juga ditemukan Prasasti Telaga Batu 2 yang menceritakan tentang keberadaam sebuah vihara.

Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di kota Palembang, yang merupakan kota ibu kota dari kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini ditemukan sekitar tahun 683 Masehi dan menceritakan tentang Dapunta Hyang yang berhasil memakmurkan rakyat. Raja Dapunta Hyang itu sendiri dikenal sebagai raja yang ramah dan sangat mencintai rakyatnya yang makmur saat itu.

Prasasti Talang Tuwo

Peninggalan kerajaan Sriwijaya berikutnya adalah Prasasti Talang Tuwo. Penemuan prasasti ini ditemukan di kaki Bukit Seguntang di sekitar tepian utara Sungai Musi. Isi Prasasti Talang Tuwo adalah doa-doa dedikasi dan menunjukkan berkembangnya agama Buddha di Sriwijaya pada masa itu.

Prasasti Leiden

Prasasti Leiden merupakan peninggalan Sriwijaya yang ditulis menggunakan bahasa Sansakerta dan Tamil. Isi dari prasasti Leiden ini menceritakan mengenai hubungan baik antara dinasti Chola dari Tamil dengan dinasti Sailendra dari Sriwijaya, India Selatan.

Prasasti Amoghapasha

Prasasti Amoghapasha merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di wilayah Jambi. Diperkirakan prasasti ini sudah ada sejak tahun 1286 Masehi. Isi Prasasti Amoghapasha ini menyebutkan sebuah penyerahan hadiah yang diberikan raja Kartanegara kepada raja Suwarnabhumi.

Prasasti Bukit Siguntang

Prasasti Bukit Siguntang adalah peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di kompleks pemakaman para raja Sriwijaya. Isi Prasasti Bukit Siguntang menceritakan peperangan yang memakan banyak korban jiwa. Karena letaknya, banyak benda sejarah lain yang ditemukan bersamaan dengan prasasti ini.

Prasasti Karang Birahi

Prasasti Karang Birahi ini ditemukan di daerah Karang Berahi, provinsi Jambi. Prasasti ini sendiri sudah ada sejak tahun 868 Masehi. Isi Prasasti Karang Birahi berisikan tentang doa-doa kepada dewa dari rakyat Sriwijaya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat.

Nah itulah macam-macam peninggalan kerajaan Sriwijaya, baik yang berupa candi, prasasti, gapura, dan situs arkeologi lainnya. Semoga bisa menambah wawasan dan referensi sejarah.

Tinggalkan komentar